Menurut Hamalik (1992) belajar mengandung pengertian
terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan
perilaku. Hilgard dan Browser (dalam Hamalik,1992:45) menyatakan bahwa belajar
adalah sebagai perubahan dalam perbuatan melalui kreativitas, praktik, dan
pengalaman.
Relevan dengan Hamalik (1992), Sardiman (1990:2) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu
perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan seperti
dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Sementara
itu, Barlow (1985) menyatakan belajar adalah proses adaptasi atau penyesuaian
tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Menurut teori
behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya
interaksi antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan). Dengan kata
lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu
jika ia dapat menunjukkan perubahan pada tingkah lakunya.
Menurut teori ini, hal
yang paling penting adalah input (masukan) yang berupa stimulus dan output
(keluaran) yang berupa respon. Apa yang tejadi diantara stimulus dan respon
dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat
diukur. Teori ini lebih mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan
suatu hal yang penting untuk melihat terjadinya perubahan tungkah laku
tersebut. Faktor lain yang juga dianggap penting adalah faktor penguatan.
Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila
penguatan diitambahkan maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila
penguatan dikurangi maka respon pun akan dikuatkan. Jadi, penguatan merupakan
suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan
(dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon.
Pengertian menurut para ahli tersebut menunjukkan bahwa
belajar adalah seuatu kegiatan yang terkait erat dengan perubahan tingkah laku.
Istilah perubahan ini bukan berarti semua perubahan dalam arti belajar. Banyak
sekali perubahan dalam diri individu tetapi bukan karena proses belajar.
Prestasi
belajar sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:895), Prestasi balajar adalah
penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata
pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai yang diberikan oleh guru.
Sedangkan menurut para ahli dapat kita uraikan berikut
ini:
1. Winkel
(Sunarto, 2012) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti
keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Dengan demikkan, prestasi belajar
merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan
usaha-usaha belajar.
2. Arif
Gunarso (Sunarto, 2012) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha
maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.
Prestasi dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi
belajar.
3.
Muhibbin Syah
(2004:141) menyatakan bahwa Prestasi belajar adalah alat ukur yang digunakan
untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah proses belajar mengajar atau untuk
menentukan taraf keberhasilan sebuah program pengajaran.
Dari
pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah
hasil kegiatan yang telah dikerjakan atau diupayakan dengan jalan ketekunan dan
keuletan dalam menciptakan suatu hasil kerja yang baik. Dimana prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan
melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan
belajar. Pencapaian prestasi belajar tersebut dapat diketahui dengan mengadakan
penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana
siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Salah
satu indikator terjadi perubahan dalam diri siswa sebagai prestasi belajar di sekolah dapat dilihat melalui nilai yang
diperoleh siswa pada akhir semester.
A.
Indikator
Prestasi Belajar
Pengungkapan prestasi
belajar meliputi segala ranah psikologis
yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Pencapaian prestasi belajar merujuk kepada
aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Oleh karena itu, ketiga aspek
tersebut harus menjadi indikator prestasi belajar. Namun, demikian pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah,
khususnya ranah afektif sangat sulit. Hal ini
disebabkan perubahan prestasi belajar itu ada yang bersifat intangible (tidak
dapat diraba). Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data prestasi belajar siswa adalah garis-garis besar indikator dikaitkan dengan
jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. Di bawah ini adalah tabel
yang menunjukan jenis, indikator dan cara evaluasi belajar:
Tabel 1 : Jenis Indikator dan Cara Evaluasi Prestasi
|
Ranah/Jenis Prestasi
|
Indikator
|
Cara Evaluasi
|
|
A. Ranah Kognitif
|
||
|
1.
Pengamatan
|
1. dapat menunjukkan
2. dapat membandingkan
3. dapat menghubungkan
|
1. tes lisan
2. tes tertulis
3. observasi
|
|
2.
Ingatan
|
1. dapat menyebutkan
2. dapat menunjukan kembali
|
1. tes lisan
2. tes tertulis
3. observasi
|
|
3.
Pemahaman
|
1. dapat menjelaskan
2.
dapat
mendefinisikan dengan lisan sendiri
|
1. tes lisan
2. tes tertulis
|
|
4.
Penerapan
|
1. dapat memberikan contoh
2. dapat menggunakan secara
tepat
|
1.
tes
tertulis
|
|
5.
Analisis (pemeriksaan
dan pemilahan secara teliti)
|
1. dapat menguraikan
2. dapat mengklasifikasikan
|
1. tes tertulis
2. pemberian tugas
|
|
6.
Sintesis
(membuat panduan baru dan utuh)
|
1. dapat menghubungkan
2. dapat menyimpulkan dapat
menggeneralisasi
|
1. tes tertulis
2. pemberian tugas
|
|
B. Ranah Afektif
|
||
|
1.
Penerimaan
|
1. menunjukan sikap menerima
2. menujukan sikap menolak
|
1. tes tertulis
2. tes skala sikap
3. observasi
|
|
2.
Sambutan
|
1. kesediaan berpartisipasi/
terlibat
2. kesediaan memanfaatkan
|
1. tes tertulis
2. tes skala sikap
3. observasi
|
|
3.
Apresiasi
(sikap menghargai)
|
1. menganggap penting dan bermanfaat
2. menganggap indah dan
harmonis
3. mengagumi
|
1. tes skala
penilaian/sikap
2. pemberian tugas
3. observasi
|
|
4.
Internalisasi
(pendalaman)
|
1. mengakui dan meyakini
2.
mengingkari
|
1. tes skala sikap
2. pemberian tugas
ekspresif (yang
menyatakan sikap) dan proyektif (yang
menyatakan
perkiraan ramalan)
|
|
5.
Karakteristik
(penghayatan)
|
1. melembagakan atau
meniadakan
2. menjelmakan dalam pribadi
dan perilaku sehari-hari
|
1. pemberian tugas
ekspresif dan proyektif
2. observasi
|
|
C. Ranah Psikomotor
|
||
|
1. Keterampilan
bergerak dan bertindak
|
Mengkoordinasikan
gerak mata, tangan, kaki
dan anggota tubuh
lainnya
|
1. observasi
2. tes tindakan
|
|
2. Kecakapan ekspresi
verbal dan nonverbal
|
1. mengucapkan
2. membuat mimik dan
gerakan jasmani
|
1. tes lisan
2. observasi
3. tes tindakan
|
Keberhasilan
siswa dalam proses belajar mengajar dapat diketahui dengan melaksanakan suatu
penilaian dengan cara mengevaluasi siswa. Dengan mengadakan penilaian tersebut
seorang guru akan mengetahui sejauh mana keberhasilan siswanya dalam melakukan
proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa evaluasi
belajar merupakan bagian integral dari proses belajar.
Banyak
manfaat yang diambil dari evaluasi belajar, antara lain untuk mengetahui
kesulitan, kekurangan dan kelebihan siswa, mendapat umpan balik dari kegiatan
belajar mengajar dan mengambil keputusan apakah siswa sudah memenuhi kriteria
atau belum. Hasil dari evaluasi belajar tersebut adalah prestasi belajar.
Prestasi belajar siswa tersebut diwujudkan dalam bentuk nilai.
A. Indikator Prestasi
Pengungkapan prestasi
belajar meliputi segala ranah psikologis
yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Pencapaian prestasi belajar merujuk kepada
aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Oleh karena itu, ketiga aspek
tersebut harus menjadi indikator prestasi belajar. Namun, demikian pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah,
khususnya ranah afektif sangat sulit. Hal ini
disebabkan perubahan prestasi belajar itu ada yang bersifat intangible (tidak
dapat diraba). Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data prestasi belajar siswa adalah garis-garis besar indikator dikaitkan dengan
jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. Di bawah ini adalah tabel
yang menunjukan jenis, indikator dan cara evaluasi belajar:
B. Faktor-Faktor
yang Memengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi yang dicapai
seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang
mempengaruhi, baik dalam diri siswa maupun luar diri siswa. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Muhibbin Syah
(2008:132), yaitu:
- Faktor internal (faktor dari dalam diri individu), meliputi keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa.
- Faktor eksternal (faktor dari luar diri individu), meliputi kondisi lingkungan sekitar siswa.
- Faktor pendekatan belajar (approach to learning)
yaitu jenis upaya belajar siswa (kebiasaan) yang meliputi strategi dan metode
yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi pelajaran.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dari segi lingkungan sekolah menurut Slameto (2010:64), yaitu:1. metode mengajar;2. kurikulum;3. relasi guru dengan siswa;4. relasi siswa dengan siswa;5. disiplin sekolah;6. alat pelajaran;7. waktu sekolah;8. standar pelajaran diatas ukuran;9. keadaan gedung;10. metode belajar;11. tugas rumah.Lingkungan keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Slameto (2010:60), menyatakan siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga. Diantaranya adalah berupa:1. cara orang tua mendidik;2. relasi antaranggota keluarga;3. suasana rumah;4. keadaan ekonomi keluarga;5. pengertian orang tua;6. latar belakang kebudayaan.Faktor-faktor di atas saling berinteraksi secara langsung dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa, maka sangat diperlukan lingkungan yang baik dan kesiapan dalam diri siswa yang meliputi strategi, metode serta gaya belajar, agar dapat memberi pengaruh terhadap prestasi belajar yang akan dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sunarto. 2012. Pengertian prestasi belajar. Fasilitator idola (online). Tersedia : http://sunartombs.wordpress.com/2009/01/05/pengertian-prestasi-belajar/ (1 April 2012)
Slameto. 2010. Belajar dan Faktorfaktor yang Mempengaruhinya.Jakarta : Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT.Remaja Rosda karya.
Djamarah, Syaiful Bahri.2011. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Tohirin. 2011. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penerbit: PT.
Rajagrafindo Persada.
Hamalik, O (1992). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung:Eresco.
Sardiman,AM. (1990).Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Cetakan II. Jakarta Rineka Cipta.
Ahmadi, H. Abu dan Supriyono, Widodo. (2013). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar